Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2012

Pengertian Sunnah


Bismillaah ^_^

ana sampaikan pengertian "sunnah" dari sisi etimologi dan terminologi ^_^ 

Secara etimologi, Sunnah berarti tata cara.[Lisanul al-‘Arab: kata “sunan”] Dalam kitab Mukhtar al-Shihah disebutkan bahwa sunnah secara etimologi berarti tata cara dan tingkah laku atau perilaku hidup, baik perilaku itu terpuji maupun tercela.[Mukhtar al-Shihah, hlm. 339] Hasbi Ash-Shiddieqy [hlm. 24] menambahkan bahwa suatu tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik. 

Di dalam al-Qur’an kita dapat menjumpai beberapa ayat yang menyebutkan kata “sunnah”. M.M. Azami [M.M. Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Terj), (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), hlm. 16-18.] menelusuri pengertian istilah “sunnah” di dalam al-Qur’an, menurutnya kata “sunnah” disebutkan dalam beberapa ayat berikut ini:

1. Surat an-Nisa’: 26

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ 

Artinya: “Allah hendak menerangkan hukum syari’ah-Nya kepadamu dan menunjukkanmu ke jalan yang orang-orang sebelum kamu (yaitu para nabi dan orang-orang saleh), serta hendak menerima taubatmu. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” 

2. Surat al-Anfal: 38

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ

Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang kafir, apabila mereka menghentikan perbutannya maka dosa-dosa mereka yang telah lalu akan diampuni, dan apabila mereka tetap kembali untuk melakukan perbuatan itu maka sunnah (aturan) orang-orang dahulu sudah berlaku.” 

3. Surat al-Isra’: 77

سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

Artinya: “(Kami menetapkan hal itu) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu, dan kamu tidak akan menemukan perubahan dalam ketetapan Kami.”

4. Surat al-Fath: 23

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Artinya: “Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu tidak akan menemukan perubahan dalam sunnatullah itu.”

Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam al-Qur’an kata-kata “sunnah” dimaknai dengan arti secara etimologis, yaitu tata cara dan kebiasaan.

Secara terminologi, para ulama ahli hadits mendefinisikan “sunnah” sebagai sabda, pekerjaan, ketetapan, sifat (watak budi atau jasmani); atau tingkah laku Nabi Muhammad saw, baik sebelum menjadi Nabi maupun sesudahnya. 

Adapun ahli Ushul Fiqih mendefinisikan “sunnah” adalah sabda Nabi Muhammad saw. yang bukan berasal dari al-Qur’an, pekerjaan, atau ketetapannya. 

Berbeda lagi dengan ahli fiqih yang mendefinisikan “sunnah” sebagai hal-hal yang berasal dari Nabi Muhammad saw. baik ucapan maupun pekerjaan, tetapi hal itu tidak wajib dikerjakan.[M.M. Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Terj), (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), hlm. 14]

setelah memahami "sunnah" maka fahami juga tentang "bid'ah" yang maknanya adl "hal yang baru yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad semasa hidup beliau"

dan bid'ah (hal yang baru) bukanlah sunnah (amalan atau kebiasaan Nabi), dan bid'ah ini ada 5 hukum, yaitu ada yg wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah

contoh bid'ah yang wajib : 
- pembukuan Qur'an.
- perumusan ilmu tajwid. 
- perumusan ilmu tata bahasa Arab dan sastra Arab.
- perumusan ilmu2 hadits.
- perumusan ilmu ushul fiqh dan fiqh.
- perumusan ilmu kalam/ilmu tauhid.
- perumusan ilmu tasawuf.

contoh bid'ah yang sunnah :
- sholat tarawih berjama'ah sebulan penuh.
- adzan jum'at dua kali.
- maulid nabi.
- yasinan.
- tahlilan.
- istighosah akbar.

contoh bid'ah yang makruh :
- makan bawang.
- makan jengkol.
- menghiasi masjid secara berlebihan.

contoh bid'ah yang haram :
- menafsirkan Qur'an secara serampangan.
- berdusta atas nama Nabi dan Ulama'2 salaf.
- menyesatkan amalan2 muslim yg baik, seperti menyesatkan Maulid Nabi, Yasinan atau menyesatkan tahlilan.

contoh bid'ah yang mubah :
- main FB
- makan dengan menggunakan sendok
- makan sampai kenyang
- main Game Play Station atau Nintendo
- memakai baju batik
- memakai kopyah

Alhamdulillaah... ^_^

Senin, 24 Oktober 2011

Sedekah dengan membaca Al Fatihah bagi orang yang telah meninggal dunia

Sedekah dengan membaca Al Fatihah bagi orang yang telah meninggal dunia





Oleh Zon Jonggol di Majelis Ahbaburrosul Forum diskusi ·




Sedekah dengan membaca Al Fatihah bagi orang yang telah meninggal dunia


Mereka masih saja mempertanyakan sedekah dengan membaca Al Fatihah bagi orang yang telah meninggal dunia.


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa kita boleh bersedekah atas nama orang yang telah meninggal dunia


حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا


Telah bercerita kepada kami Isma'il berkata telah bercerita kepadaku Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah aku boleh bershadaqah atas namanya? Beliau menjawab: Ya bershodaqolah atasnya. (HR Muslim 2554)


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa sedekah tidak selalu dalam bentuk harta


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ


Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba'i Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Washil maula Abu Uyainah, dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abul Aswad Ad Dili dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada beliau, Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka. Maka beliau pun bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma'ruf nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim 1674)


Kita boleh bersedekah dengan dzikrullah yakni tasbih, takbir, tahmid, tahlil, membaca Al Fatihah, membaca Yasin, bahkan mengkhatamkan Al Qur'an.


Mereka membantah dengan pendapat masyhur (pendapat secara umum) Imam As Syafi'i bahwa pahala bacaan tidak sampai. Padahal ada penjelasan pahala bacaan yang bagaimana yang tidak sampai.


Al Imam An Nawawi adalah murid Al Imam Syafi’i yang bersambung sanadnya kepada beliau, maka kita mengambil pendapat dari muridnya karena muridnya lebih tahu disaat seperti ketika Al Imam Syafi’i berbicara, sebagaimana yang diriwayatkan berikut,


*****awal kutipan*****
Suatu waktu Al Imam Syafi’i ditanya oleh seseorang yang kaya raya, dia berkata: “wahai Al Imam, aku berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan, apa yang harusnya aku lakukan?”,
maka Al Imam berkata : “berpuasalah 2 bulan berturut-turut, dan jika terputus sehari saja maka harus diulang kembali dari awal”,
maka orang itu berkata : “tidak ada yang lain kah”, Al Imam menjawab : “tidak ada”.


Kemudian datang seorang miskin dan bertanya : “wahai Al imam, aku berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan, apa yang harus aku perbuat?”
Al Imam menjawab : “berilah makan 60 orang miskin”, orang itu berkata : “ tidak ada yang lainkah wahai Al Imam?”, Al Imam Syafi’I menjawab : “tidak ada”.


Maka muridnya bertanya : “ wahai Al Imam mengapa engkau katakan demikian kepada orang yang bertanya, padahal memberi makan 60 orang miskin atau berpuasa 2 bulan berturut-turut keduanya bisa dilakukan?!”,


maka Al Imam berkata : “karena orang yang pertama adalah orang yang kaya raya, jika dikatakan kepadanya agar memberi makan 60 orang miskin maka bisa jadi ia akan berkumpul dengan istrinya setiap hari di siang bulan ramadhan, dan orang yang kedua karena dia orang miskin jika disuruh puasa maka hal itu sangat mudah baginya karena ia telah terbiasa dengan keadaan lapar setiap harinya, maka disuruh agar memberi makan 60 orang miskin, dan hal ini sulit baginya namun supaya tidak diulanginya lagi perbuatan itu”.


Demikian fatwa Al Imam Syafi’i, maka Al Imam mengatakan bahwa bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada yang wafat, karena orang-orang kaya yang di masa itu jauh hari sebelum mereka wafat, mereka akan membayar orang-orang agar jika ia telah wafat mereka menghatamkan Al Qur’an berkali-kali dan pahalanya untuknya, maka Al Imam Syafi’i mengatakan bahwa pahala bacaan Al qur’an tidak bisa sampai kepada yang wafat.
*****akhir kutipan*****


Jadi syarat sampai pahala bacaan tergantung niat (hati), kalau niat tidak lurus seperti niat "jual-beli" maka pahala bacaan tidak akan sampai.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tetapi Allah melihat kepada hati kalian.” (HR Muslim)


Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh Ahmad bin Qasim al-Ubadi dalam hasyiah Tuhfatul Muhtaj Jilid VII/74 :
“Kesimpulan bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasillah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membacanya ”.


Kemudian mereka mempertentangkan dengan mempertanyakan kaitannya dengan firman Allah ta'ala yang artinya, “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS An Najm [53] : 38-39)


Kita paham bahwa bahwa dosa seseorang tidak akan dipikul oleh orang lain namun kebaikan yang diusahakan oleh seseorang dapat diniatkan disedekahkan kepada orang lain tanpa mengurangi kebaikan (pahala) bagi orang yang telah melakukan kebaikan. Ayat tersebut hanya menafikan kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain. Allah Subhanahu wa ta’ala hanya mengabarkan bahwa orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri. Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya (mensedekahkan) kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insani” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”)


Mereka juga mempertentangkan dengan mempertanyakan kaitannya dengan hadit yang lain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim 3084)
Menurut mereka sedekah atas nama si mayyit hanya sampai bila yang mensedekahkan anaknya sendiri.
Pertanyaannya kalau sedekah sampai kepada si mayyit hanya dari anak si mayyit, bagaimana kalau yang bersedekah adalah keluarga si mayyit dan bagaimapula sampainya doa kaum muslim yang mensholat jenazahkan si mayyit ?


Sampai doa ataupun sedekah kaum muslim lainnya kepada si mayyit atas silaturrahmi yang dijalankan si mayyit sewaktu hidup. Selengkapnya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/2011/09/22/sampai-karena-silaturrahim/


Begitupula para ulama menyatakan bahwa do’a dalam shalat jenazah maupun sedekah dari kaum muslim lainnya bermanfaat bagi si mayyit. Contoh, bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga. Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah membayarnya Nabi bersabda: “Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya” (HR Ahmad)


Senada dengan apa yang disampaikan dalam syarah Thahawiyah hal. 456 bahwa sangat keliru berdalil dengan hadist tersebut untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati karena dalam hadits tersebut tidak dikatakan : “inqata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat). Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu (terputus amalnya)”. Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepadanya maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi sampai itu pahala amal si mayyit itu. Hal ini sama dengan orang yang berhutang lalu dibayarkan oleh orang lain, maka bebaslah dia dari tanggungan hutang. Akan tetapi bukanlah yang dipakai membayar utang itu miliknya. Jadi terbayarlah hutang itu bukan oleh dia telah memperoleh manfaat (intifa’) dari orang lain.




Tidak ada pertentangan antara Al Qur'an dengan As Sunnah maupun pertentangan di dalam Al Qur'an atau di dalam As Sunnah.


Firman Allah Azza wa Jalla,
أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)


Firman Allah ta’ala dalam (QS An Nisaa 4 : 82) menjelaskan bahwa dijamin tidak ada pertentangan di dalam Al Qur’an. Jikalau manusia mendapatkan adanya pertentangan di dalam Al Qur’an maka pastilah yang salah adalah pemahaman mereka atau karena ketidaktahuan.


Kita tidak boleh memahami Al Qur'an dan Hadits hanya bersandarkan dengan pemahaman secara ilmiah yakni pemahaman menggunakan akal pikiran (otak/ratio/akal) dan memori. Contoh bagaimana akal pikiran tidak akan bisa menerima bahwa membaca Al Fatihah dapat digunakan untuk mengobati penyakit.


Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi; Telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa beberapa orang sahabat melakukan perjalanan jauh dan berhenti untuk istirahat pada salah satu perkampungan ‘Arab, lalu mereka minta dijamu oleh penduduk kampung itu. Tetapi penduduk enggan menjamu mereka. Penduduk bertanya kepada para sahabat; ‘Adakah di antara tuan-tuan yang pandai mantera? Kepala kampung kami digigit serangga.’ Menjawab seorang sahabat; ‘Ya, ada! Kemudian dia mendatangi kepala kampung itu dan memanterainya dengan membaca surat Al Fatihah. Maka kepala kampung itu pun sembuh. Kemudian dia diberi upah kurang lebih tiga puluh ekor kambing. Tetapi dia enggan menerima seraya mengatakan; ‘Tunggu! Aku akan menanyakannya lebih dahulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku boleh menerimanya.’ Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya hal itu, katanya; ‘Ya, Rasulullah! Demi Allah, aku telah memanterai seseorang dengan membacakan surat Al Fatihah.’ Beliau tersenyum mendengar cerita sahabatnya dan bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu Al Fatihah itu mantera? ‘ Kemudian sabda beliau pula: ‘Terimalah pemberian mereka itu, dan berilah aku bagian bersama-sama denganmu.’ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Nafi’ keduanya dari Ghundar Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Abu Bisyr melalui jalur ini, dia menyebutkan di dalam Haditsnya; ‘Kemudian orang itu mulai membacakan Ummul Qur’an, dan mengumpulkan ludahnya lalu memuntahkannya, setelah itu orang itu sembuh. (HR Muslim 4080) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=40&ayatno=62&action=display&option=com_muslim


Kalau kita ketahui terjemahan ayat-ayat Al Fatihah maka secara harfiah (dzahir) tidak akan ditemukan kaitannya dengan "penyembuhan" penyakit


Kita sebaiknya memahami Al Qur'an dan Hadits dengan akal qalbu(hati / lubb) sebagaimana Ulil Albab. Hali ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/11/2011/09/15/pahamilah-dengan-hati/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/16/dalil-akal/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/16/2011/08/23/pemahaman-secara-hikmah/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/15/keyakinan-ilmiah/


Pemahaman secara ilmiah dapat membuat mereka mengingkari pendapat Imam Al-Baihaqy, Imam An-Nawawy dan Ibnu Hajar tentang sifat-sifat Allah, sebagaimana telah terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/23/2011/09/07/klaim-mereka/


Pemahaman secara ilmiah dapat membuat ulama mereka mengingkari hadits Rasulullah seperti


Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)
Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/22/sebaik-baik-manusia/


Semakin hari semakin parah , adanya ulama-ulama memperlakukan perkataan Rasulullah bagaikan perkataan atau tulisan ilmiah semata. Semua karena mereka memahaminya secara dzahir, dengan akal pikiran (otak/rasio/logika) dan memori (ingatan) semata. Kita dapat temukan adanya ulama-ulama yang memperolok-olok "ila hadoroti". Inilah yang dinamakan fitnah akhir zaman.


Sebaiknyalah kita ingat peringatan Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya yang artinya,
"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan". (QS Luqman [31]:6)


Sebaiknya janganlah kita merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits dengan akal pikiran masing-masing dan jangan pula mengikuti ulama-ulama yang tidak jujur karena tidak mau mengakui bahwa apa yang mereka sampaikan adalah upaya pemahaman (ijtihad) mereka sendiri malahan mereka mengatasnamakan pemahaman mereka sebagai pemahaman Salafush Sholeh sehingga muslim yang awam akan mengira bahwa setiap apa yang mereka sampaikan adalah pasti kebenaran. Kita harus ingat setiap upaya penterjemahan, penafsiran, pemahaman Al Qur'an dan Hadits, bisa benar dan bisa pula salah.


Marilah kita dalam memahami Al Qur'an dan Hadits mengikuti atau berpedoman dengan pendapat atau pemahaman para Imam Mazhab dan penejelasan dari para pengikutnya sambil kita merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits. Janganlah kita melakukan hal sebaliknya memahami Al Qur'an dan Hadits dengan akal pikiran masing-masing lalu membandingkannya dengan pendapat atau pemahaman para Imam Mazhab karena kita belem tentu berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak


Wassalam






Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Selasa, 11 Oktober 2011

Sifat - Sifat Allah

PELAJARAN KETIGA: SIFAT SIFAT ALLAH




SYARAH
Wajib bagi setiap muslim mukallaf yaitu yang memiliki akal yang sehat dan
sudah masuk dewasa mempercayai bahwa terdapat beberapa sifat
kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat sifat Allah itu banyak
sekali dan tidak terhitung. Seandainya air laut dijadikan tinta untuk untuk
menulis sifat sifat Allah tentu kita tidak akan mampu mencatatnya. Maka
dari itu seorang ulama pintar bernama Abu Manshur Al-Maturidi
membatasi 20 sifat yang wajib (artinya harus ada) pada Allah. Jika tidak
memiliki sifat itu, berarti dia bukan Allah.
Jadi, minimal kita harus memahami dan meyakini 20 sifat tersebut agar
tidak tersesat. Setelah itu kita bisa mempelajari sifat Allah lainnya yang
banyak. Sebagaimana wajib dipercayai akan sifat Allah yang dua puluh
maka perlu juga diketahui juga sifat yang mustahil bagi Allah. Sifat yang
mustahil bagi Allah merupakan lawan dari sifat wajib.
20 Sifat- sifat Allah yang wajib diketahui oleh seorang muslim mukallaf (akil
baligh) yang terkandung di dalam al- Quran termasuk juga sifat-sifat
Mustahil yang wajib diketahui. Untuk mempermudah mempelajarinya
terlampir dibawah ini ringkasan sifat sifat Allah yang wajib dan mustahil.
SIFAT SIFAT WAJIB DAN MUSTAHIL BAGI ALLAH
1- Sifat Wajib: Wujud
Artinya: Ada
Sifat Mustahil: ‘Adam
Aritnya : Tidak Ada
Allah Taala itu ada. Mustahil Allah itu tiada.
2- Sifat Wajib: Qidam
Artinya: Sedia/terdahulu/tidak ada permulaanya
Sifat Mustahil: Huduts
Artinya: Baru
Allah Taala itu sedia/terdahulu, tidak ada permulaanya. Mustahil Allah itu
didahului oleh ‘Adam (ada permulaanya).
3- Sifat Wajib: Baqa’
Artinya: Kekal
Sifat Mustahil: Fana’
Artinya: Binasa
Allah itu bersifat kekal. Mustahil Ia dikatakan fana (binasa)
4- Sifat Wajib: Mukhalafah Lilhawaditsi
Artinya: Tidak sama dengan yang baru
Sifat Mustahil: Mumatsalah Lilhawaditsi
Artinya: Sama dengan yang baru
Allah itu tidak mempunyai sifat-sifat yang baru yakni dijadikan dan
dihancurkan. Mustahil Allah bersamaan dengan yang baru.
5- Sifat Wajib: Qiyam Binafsihi
Artinya: Berdiri dengan diri-Nya sendiri
Sifat Mustahil: Ihtiyaj Ila Mahal Wa Mukhashshash
Allah Taala itu berdiri sendiri. Mustahil tidak berdiri dengan dirinya sendiri
atau berdiri pada lainnya dan berdirinya tidak memerlukan tempat
tertentu
6- Sifat Wajib: Wahdaniyah
Artinya: Esa
Sifat Mustahil: Ta’addud
Allah itu Maha Esa Dzat- Nya, Esa sifat-Nya dan esa juga perangai-Nya.
Mustahil ia mempunyai Dzat, sifat dan perangai yang berbilang- bilang.
7- Sifat Wajib: Qudrah
Artinya: Kuasa
Sifat Mustahil: ’Ajez
Artinya: Lemah
Alah Taala itu Maha Berkuasa, apapun bisa dilakukannya. Mustahil Allah itu
lemah atau tidak berkuasa.
8- Sifat Wajib: Iradah
Artinya: Menentukan
Sifat Mustahil: Karahah
Artinya: Terpaksa
Allah itu Menentukan segala- galanya, semua terjadi dengan ketentuan
Allah, Mustahil Allah Taala itu terpaksa dan dipaksa menentukan segala
galanya.
9- Sifat Wajib: ’Ilim
Artinya: Mengetahui
Sifat Mustahil: Jahil
Artinya: Bodoh
Allah Taala itu amat mengetahui segala- galanya. Mustahil Allah tidak
mengetahui atau bodoh.
10- Sifat Wajib: Hayah
Artinya: Hidup
Sifat Mustahil: Maut
Artinya: Mati
Allah Taala itu sentiasa hidup yakni sentiasa ada. Mustahil Allah itu bisa
mati, dianiyaya atau dibunuh.
11- Sifat Wajib: Sama’
Artinya: Mendengar
Sifat Mustahil: Shamam
Artinya: Tuli
Allah Taala itu mendengar. Mustahil Allah tuli atau tidak
mendengar.
12- Sifat Wajib: Bashar
Artinya: Melihat
Sifat Mustahil: ’Ama
Artinya: Buta
Allah Taala itu sentiasa melihat. Mustahil Allah Taala itu buta.
13- Sifat Wajib: Kalam
Artinya: Berkata-kata
Sifat Mustahil: Bakam
Artinya: Bisu
Allah Taala itu berkata- kata atau berbicara. Mustahil Allah Taala itu tidak
berbicara atau bisu.
14- Sifat Wajib: Kaunuhu Qodiran
Artinya: Keberadaan Allah Maha Kuasa
Sifat Mustahil: Kaunuhu ’Ajizan
Artinya: Keberadaan Allah lemah (tidak berkuasa)
Allah Taala keberadaanya amat berkuasa sifatnya. Mustahil bagi Allah
memiliki sifat lemah atau tidak berkuasa.
15- Sifat Wajib: Kaunuhu Muridan
Artinya: Menentukan
Sifat Mustahil: Kaunuhu Mukrahan
Artinya: Terpaksa
Allah Taala itu berkuasa menentukan apa yang dikehendakinya. Mustahil
sifatnya terpaksa atau dipaksa
16- Sifat Wajib: Kaunuhu ‘Aliman
Artinya: Maha Mengetahui
Sifat Mustahil:Kaunuhu Jahilan
Artinya: Bodoh
Allah Taala itu maha mengetahui. Mustahil Allah Taala itu jahil/bodoh atau
tidak mengetahui.
17- Sifat Wajib: Kaunuhu Hayyan
Artinya: Hidup
Sifat Mustahil: Kaunuhu Mayyitan
Allah Taala itu Maha Hidup dan menghidupkan alam ini. Mustahil Allah itu
bisa mati atau dibunuh.
18- Sifat Wajib: Kaunuhu Sami’ an
Artinya: Mendengar
Sifat Mustahil: Kaunuhu Ashamma
Artinya: Tuli
Allah Taala itu maha mendengar. Mustahil jika Allah Taala tidak mendengar
atau tuli.
19- Sifat Wajib: Kaunuhu Bashiran
Artinya: Melihat
Sifat Mustahil: Kaunuhu A’ma
Artinya: Buta
Allah Taala itu melihat semua kejadian di muka bumi. Mustahil jika sifat
Allah itu tidak melihat atau buta.
20- Sifat Wajib: Kaunuhu Mutakalliman
Artinya: Maha Berkata-kata
Sifat Mustahil: Kaunuhu Abkama
Artinya: Bisu
Allah Taala itu berkata- kata. Mustahil jika Allah Ta’ala bisu atau tidak bisa
berkata- kata.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Bid'ah ada 5 macam

oleh : KH. Thobary Syadzily





Di dalam kitab "Hasyiah Raddul Mukhtar (حاشية رد المختار) karya Syeikh Muhammad Amin / Ibnu Abidin jilid 1 halaman 590 cetakan kedua "Dar el-Fikr" tahun 1386 H / 1966 M disebutkan bahwa bid'ah terbagi kepada lima bagian, yaitu:


1. Bid'ah Yang Diharamkan (contoh: meyakinkan bahwa Allah swt berbentuk jisim seperti jisim-jisim yang terdapat pada makhluk).


2. Bid'ah Wajib. Contoh: menegakkan dalil-dalil untuk membantah golongan-golongan yang sesat, belajar ilmu nahwu supaya dapat memahami Al-Qur'an dan Hadits Nabi saw.


3. Bid'ah Yang Disunnahkan. Contoh: memperbaharui upamanya pesantren, madrasah, dan setiap kebagusan yang tidak ada di zaman permulaan Islam.


4. Bid'ah Yang Dimakruhkan. Contoh: menghiasi mesjid.


5. Bid'ah Yang Diperbolehkan. Contoh: membuat makanan & minuman yang enak, dan mengenakan pakaian yang bagus.


CATATAN:
------------
Di sini gak ada bid'ah "Siti Marqonah" lhoooo ...

Sabtu, 10 September 2011

PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN DUA KALIMAH SYAHADAH – MURTAD : HUKUM – SEBAB DAN AKIBATNYA

PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN DUA KALIMAH SYAHADAH – MURTAD : HUKUM – SEBAB DAN AKIBATNYA


PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN DUA KALIMAH SYAHADAH
FASAL PERTAMA: PENGENALAN
Barangsiapa yang berlaku kepadanya perkara yang membatalkan Dua Kalimah Syahadah, maka dia telah murtad iaitu keluar dari agama Islam atau putus dari ikatan agama Islam. Murtad termasuk dosa kufur yang merupakan dosa paling besar di sisi Allah taala dan tidak ada lagi dosa yang lebih besar dari dosa kufur.
Bagi menyelesaikan masalah murtad tidak dapat tidak kita mesti mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan murtad. Oleh itu, seseorang yang mukallaf itu wajib mempelajari perkara yang boleh membatalkan Dua Kalimah Syahadah supaya dia tidak terjerumus ke dalam kancah murtad dan supaya dapat mengislamkan kembali mereka yang telah murtad. Ini kerana orang yang tidak mengetahui sesuatu kemudaratan tidak dapat menyelamatkan dirinya dan orang lain dari kemudaratan tersebut.
FASAL KEDUA: SEBAB-SEBAB MURTAD
Tiga perkara yang boleh menyebabkan seseorang itu murtad seperti yang telah diterangkan oleh para ulama di kalangan empat mazhab, iaitu: kufur i^tiqadiyy, kufur fi^liyy, kufur qawliyy.
Kufur I^tiqadiyy
Kufur i^tiqadiyy ialah kekufuran dengan sebab niat, pegangan, kepercayaan atau keyakinan dalam hati. Antara contoh kufur i^tiqadiyy ialah:
1) Ragu-ragu atau syak terhadap Allah dan rasul-Nya atau al-Quran atau hari Akhirat atau syurga atau neraka atau ganjaran-Nya atau balasan-Nya atau hukum-Nya atau syiar-Nya atau perkara yang telah diijmakkan (disepakati) oleh para ulama mujtahidin.
2) Kepercayaan bahawa alam ini azali pada jisim dan unsurnya atau unsurnya sahaja.
3) Menafikan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang telah diijmakkan seperti sifat Maha Mengetahui segalanya.
4) Mensifatkan Allah dengan suatu sifat yang tidak layak bagi-Nya seperti mensifatkan-Nya mempunyai jasad, bertempat, berakal dan seumpamanya.
5) Menghalalkan perkara yang diketahui di kalangan umat Islam sebagai halal dengan ijmak seperti zina, liwat, membunuh, mencuri, merompak, menyamun, arak, pergaulan bebas, pendedahan aurat dan seumpamanya.
6) Mengharamkan perkara yang diketahui di kalangan umat Islam sebagai halal dengan ijmak seperti berjual beli, nikah dan seumpamanya.
7) Menafikan kefarduan pada perkara yang diketahui di kalangan umat Islam sebagai wajib atau fardu hukumnya dengan ijmak seperti solat fardu atau salah satu daripada rukun-rukun solat (seperti sujud), zakat, puasa, haji, wuduk, menutup aurat dan seumpamanya.
Berniat atau berazam mahu menganut agama bukan Islam pada masa akan datang.
Perhatian: Lintasan hati tidak menyebabkan murtad kerana ia muncul di dalam hati tanpa kehendak seseorang.
Kufur Fi^liyy
Kufur fi^liyy ialah kekufuran dengan sebab perbuatan yang zahir meskipun tanpa niat untuk murtad, atau tanpa pegangan kufur di dalam hati. Antara contoh kufur fi^liyy ialah:
1) Sujud kepada berhala atau matahari atau bulan atau sesuatu selain Allah yang dianggap sebagai tuhan.
2) Sujud kepada manusia dengan tujuan menyembahnya.
3) Perbuatan menghina hukum atau syiar Islam seperti melempar mushaf al-Quran, kitab atau helaian yang mengandungi ayat al-Quran, hadis atau hukum-hukum agama Islam ke tempat yang jijik atau kotor.
4) Memakai syiar agama bukan Islam dengan tujuan berbangga atau kagum dengan agama bukan Islam tersebut seperti memakai rantai salib dan baju yang ada salib.
Kufur Qawliyy
Kufur qawliyy ialah kekufuran dengan sebab perkataan kufur yang diugkap dengan sengaja meskipun tanpa niat untuk murtad, atau tanpa pegangan kufur di dalam hati. Antara contoh kufur qawliyy ialah:
1) Memanggil seorang muslim yang lain: “Wahai kafir!” atau “Wahai Yahudi!” atau “Wahai Kristian!” atau “Wahai orang yang tiada agama” dengan maksud agama Islam yang dianut oleh muslim itu sebagai agama yang bersifat kufur, atau sebagai agama Yahudi, atau sebagai agama Kristian, atau sebagai bukan agama. Jika panggilan tersebut dengan maksud untuk menyamakan perbuatan jahat muslim tersebut dengan perbuatan orang kafir, atau orang Yahudi, atau orang Kristian, atau orang yang tiada agama, maka itu bukan suatu kekufuran.
2) Menghina, memperlekeh, merendah-rendah atau mempersenda-sendakan salah satu daripada sifat-sifat, nama-nama Allah, janji-Nya, ancaman-Nya, kitab-Nya, nabi-nabi-Nya, para malaikat-Nya, hukum-hukum-Nya, syiar-Nya dan seumpamanya.
3) Menafikan salah satu daripada sifat-sifat wajib bagi Allah dan para nabi-Nya.
4) Mensifatkan dengan sifat mustahil kepada Allah dan para nabi-Nya.
Perhatian: Lima keadaan perkataan kufur dikecualikan dari dihukumkan sebagai murtad, iaitu;
1) Keadaan tersasul: iaitu perkataan yang terluncur di lidah tanpa sengaja atau tanpa kehendak.
2) Keadaan hilang akal atau belum baligh. Namun, wajib ke atas kita menegah atau melarang orang yang hilang akal atau kanak-kanak tersebut dari mengungkapkan perkataan kufur.
3) Keadaan dipaksa dengan ugutan bunuh atau seumpama bunuh, iaitu dengan syarat; orang yang dipaksa itu masih lagi beriman di dalam hatinya, tidak meredai dan tidak beriktikad dengan perkataan kufur tersebut.
4) Keadaan menghikayatkan atau menceritakan perkataan kufur sama ada memulakan dengan menyatakan pihak yang berkata dengan perkataan kufur tersebut iaitu sebelum perkataan kufur, contohnya: “Golongan Wahhabi berkata: “Allah duduk di atas Arasy”, atau dengan menyatakan pihak yang berkata tersebut selepas perkataan kufur iaitu dengan berniat terlebih dahulu sebelum bercerita bahawa akan menyatakan pihak yang berkata itu selepas perkataan kufur tersebut, contohnya: “[Berniat bahawa akan menyatakan bahawa puak Wahhabi mengungkapkan perkataan kufur ini] Allah duduk di atas Arasy”. Kata puak Wahhabi”.
5) Keadaan seseorang yang mentakwil dengan ijtihadnya dalam memahami hukum syarak dalam perkara yang bukan qat^iyy. Contohnya golongan yang enggan membayar zakat pada zaman pemerintahan Sayyidina Abu Bakr dengan takwilan mereka bahawa zakat wajib dibayar pada zaman hayat Nabi Muhammad sallaLlahu ^alayhi wa-sallam kerana doa keampunan baginda buat mereka ketika membayar zakat adalah suatu ketenangan dan penyucian dari dosa buat mereka berdasarkan ayat 103 surah al-Tawbah.
Kaedah: Setiap pegangan, perbuatan atau perkataan yang menunjukkan penghinaan terhadap Allah, kitab-kitab-Nya, para nabi-Nya, para malaikat-Nya, hukum-Nya, syiar-Nya, janji-Nya atau ancaman-Nya adalah suatu kekufuran.
BAB 3
BERTAUBAT DARI DOSA MURTAD DAN
HUKUM BERKAITAN DENGAN MURTAD
PASAL PERTAMA: PENGENALAN
Bertaubat dari dosa adalah wajib ke atas setiap mukallaf, sama ada bertaubat dari dosa kecil dan dosa besar.
Riddah atau murtad adalah dosa besar yang sangat buruk dan amat keji. Kekejian dosa murtad ini dipandang dari sudut bahawa lantaran murtad maka segala pahala amal soleh yang pernah dilakukan sewaktu Islam dihapuskan, dan segala dosa yang pernah dilakukan pula masih kekal. Bahkan, selepas bertaubat dari dosa murtad segala pahala tersebut tidak dikembalikan semula dan dosa semasa sebelum murtad dan semasa murtad masih kekal.
PASAL KEDUA: TAUBAT DARI RIDDAH
Wajib ke atas sesiapa yang murtad untuk kembali segera kepada Islam dengan:
(1) mengucap Dua Kalimah Syahadah,
(2) meninggalkan sebab murtad tersebut,
(3) menyesal di atas dosa murtad, dan
(4) berazam tidak kembali kepada dosa murtad.
Syarat sah kembali kepada Islam ialah:
(1) tidak berazam untuk kufur pada masa mendatang, dan
(2) tidak ragu-ragu berkenaan azam tersebut.
FASAL KETIGA: HUKUM MENGUCAP DUA KALIMAH SYAHADAH DAN PERKARA-PERKARA YANG BERKAITAN
*
Jika seruan asas Islam iaitu Dua Kalimah Syahadah sampai kepada sesiapa yang mukallaf, maka wajib ke atasnya menganut agama Islam, tetap dalam agama Islam dan beramal dengan syariat Islam.
*
Untuk menganut agama Islam, seseorang yang kafir wajib mengucap Dua Kalimah Syahadah berserta dengan iktikad yang benar lagi utuh.
*
Lafaz Dua Kalimah Syahadah tidak disyaratkan dengan lafaz yang dimulakan dengan lafaz ashhadu (أشهد) untuk mengesahkan kemasukan seseorang ke dalam agama Islam. Bahkan, boleh dilafazkan dengan ungkapan lain yang semakna dengannya meskipun bukan dalam bahasa Arab.
*
Kefarduan melafazkan Dua Kalimah Syahadah ke atas seluruh umat Islam kekal dalam setiap solat supaya solat menjadi sah menurut mazhab al-Shafi^i.
*
Orang yang membesar dalam Islam dan beriktikad dengan Dua Kalimah Syahadah tidak disyaratkan mengucap dua kalimah syahadah untuk menjadi orang Islam. Bahkan dia sebenarnya sudah menjadi orang Islam kerana dia telahpun dididik dan diasuh dengan aqidah tauhid.
*
Menurut ulama dalam mazhab Maliki bahawa Dua Kalimah Syahadah wajib diucapkan sekali seumur hidup ke atas setiap mukallaf setelah dia baligh dengan niat fardu. Ini kerana mereka tidak mewajibkan bacaan tahiyyat dalam solat, bahkan mereka menganggapnya sebagai sunat. Sedangkan menurut ulama dalam mazhab-mazhab yang lain seperti ulama mazhab Shafi^i dan mazhab Hanbali, dua kalimah syahadah diwajibkan dalam setiap solat supaya solat menjadi sah.
*
Iman dan Islam seseorang itu tidak sah dan segala amalan kebajikannya tidak diterima tanpa dua kalimah syahadah yakni tanpa iman yang benar.
*
Ucapan syahadah pertama wajib diiringi dengan ucapan syahadah kedua bagi mengesahkan keislaman seseorang yang mahu memeluk agama Islam. Itulah kadar minima untuk selamat dari kekal abadi di dalam api neraka.


PASAL KETIGA: HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN MURTAD
Hukuman Ke Atas Orang Murtad
Jika seseorang yang murtad itu tidak mahu kembali kepada Islam, maka:
(1) wajib memintanya bertaubat dari dosa murtad tersebut dan tidak diterima daripadanya melainkan Islam, atau
(2) wajib hukuman bunuh yang dilaksanakan oleh khalifah setelah ditawarkan untuk kembali kepada Islam.
Khalifah memuktamadkan hukum murtad dengan salah satu daripada dua perkara, iaitu sama ada:
(1) dengan pengakuan si murtad, atau
(2) dengan kesaksian dua lelaki yang adil.
Kesan Murtad Dari Sudut Hukum
(1) Puasa, tayammum dan nikah seseorang murtad itu adalah batal.
(2) Pernikahan seseorang yang murtad tidak sah meskipun dengan pasangan yang murtad sepertinya. Demikian juga pernikahannya juga tidak sah dengan pasangannya yang muslim, atau beragama Yahudi, atau beragama Kristian atau beragama berhala.
(3) Sembelihan orang murtad menjadi haram.
(4) Orang murtad tidak boleh mewariskan harta pusakanya dan tidak boleh menerima warisan daripada harta pusaka.
(5) Haram menyembahyangkan mayat orang murtad dan mengebumikannya di tanah perkuburan orang-orang Islam, serta tidak wajib memandikan dan mengkafankannya.
(6) Harta orang murtad yang telah mati menjadi fay’ iaitu menjadi milik Baytul-Mal untuk maslahah orang-orang Islam.
والله أعلم
Dengan pertolongan Allah risalah ini selesai disusun oleh al-Faqir ilaLlah Abu Nur al-Dununiyy
al-Muwariyy al-Ash^ariyy al-Shafi^iyy pada 1 Rabi^ul-Thani 1431 H (secara hisab tanpa ru’yah) bersamaan 17 Mac 2010 R di daerah Dungun, Terengganu Darul Iman.
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى ءاله وصحبه أجمعين
والحمد لله ربّ العالمين
http://al-masabihul-munawwirah.blogspot.com/

Sabtu, 20 Agustus 2011

BETULKAH NASHIRUDIN AL-ALBANI AHLI HADITS ?






Oleh Ibnu Mas'ud
Di kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddits paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.


Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadits beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadits sanad, tapi ahli hadits kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.


Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?.


Siapakah Nashirudin al- Albani?


Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.


Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).
Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.


Penyelewengan Albani


Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’


1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudulAlmukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.
2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .
3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya“Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69.
4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.
5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.
6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.
7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.
8) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,
9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.
10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.


Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:


1. Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;
2. Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);
3. Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis“Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;
4. Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;
5. Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;
6. Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);
7. Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;
8. Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);
9. Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih”(Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;
10. Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.


Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadits pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya. Wallohu A’lam bish-Showab.


Semoga bermanfa’at untuk kehati-hatian dalam mengambil ilmu dan ulama’. Aamiin